Kebiasaan merokok sudah meluas di hampir semua kelompok masyarakat di Indonesia dan cenderung meningkat, terutama di kalangan anak dan remaja sebagai akibat gencarnya promosi merokok di berbagai media massa. Hal ini memberi makna bahwa masalah merokok telah menjadi semakin serius, mengingat rokok menimbulkan resiko timbulnya berbagai penyakit atau gangguan kesehatan baik bagi para perokok sendiri maupun bagi orang sekitarnya (perokok pasif).
Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku tang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat disaksikan dan dijumpai orang yang sedang merokok. Bahkan bila orang merokok di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun orang tersebut tetap tenang menghembuskan asap rokoknya dan biasanya orang-orang yang ada di sekelilingnya seringkali tidak perduli.
Merokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diduga hingga menjelang tahun 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta orang per tahunnya. Sejauh ini, wabah merokok telah terjadi di negara-negara maju. Dan pada tahun 2030 diperkirakan tidak kurang dari 70% kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara berkembang.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salh satu produsen sekaligus konsumen terbesar di dunia.
Laporan WHO tahun 1983 menyebutkan, jumlah perokok meningkat 2,1 persen per tahun di negara berkembang, sedangkan di negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 persen per tahun.
Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8 persen pria dan 9,8 persen wanita dengan usia diatas 13 tahun adalah perokok. Bahkan pada kelompok remaja, 49 pelajar pria dan 8,8 persen pelajar wanita di Jakarta sudah merokok.
Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diduga hingga menjelang tahun 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta orang per tahunnya. Sejauh ini, wabah merokok telah terjadi di negara-negara maju. Dan pada tahun 2030 diperkirakan tidak kurang dari 70 persen kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia.
Menurut Bank Dunia, konsumsi rokok Indonesia sekitar 6,6% dari seluruh konsumsi dunia. Hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2001 menyebutkan bahwa :
27% penduduk berusia diatas 10 tahun menyatakan merokok dalam satu bulan terakhir.
54,5% penduduk laki-laki merupakan perokok dan hanya 1,2% perempuan yang merokok.
Terdapat peningkatan sebesar 4% penduduk, umur diatas 10 tahun yang merokok dalam kurun waktu 6 tahun.
92,0% dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah, ketika bersama anggota rumah tangga lainnya, dengan demikian sebagian besar anggota rumah tangga merupakan perokok pasif.
68,5% penduduk mulai merokok pada usia 20 tahun meningkat 8% dari Susenas 1995 yaitu 60,0%.
Peningkatan usia muda yang merokok, kelompok umur 25-29 tahun (75%) dan kelompok umur 20-24 tahun (84,0%).
Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih saja banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dari segi kesehatan dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik. Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker.
Dari segi ekonomi, dengan berkurangnya hari bekerja karena sakit akibat merokok akan menurunkan produktivitas pekerja dengan demikian jumlah pendapatan yang diterima akan berkurang dan pengeluaran yang meningkat untuk biaya berobat . 60% dari perokok aktif atau sebesar 84,84 juta orang ternyata berasal dari kalangan penduduk miskin atau ekonomi lemah yang sehari-harinya kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya.
Dari segi sosial, merokok mempengaruhi lingkungan,orang lain, keluarga dekat.Seseorang yang bukan perokok bila terus menerus terkena asap rokok dapat menderita dampak resiko kesehatan yang sama dengan perokok.
Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku tang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat disaksikan dan dijumpai orang yang sedang merokok. Bahkan bila orang merokok di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun orang tersebut tetap tenang menghembuskan asap rokoknya dan biasanya orang-orang yang ada di sekelilingnya seringkali tidak perduli.
Merokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diduga hingga menjelang tahun 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta orang per tahunnya. Sejauh ini, wabah merokok telah terjadi di negara-negara maju. Dan pada tahun 2030 diperkirakan tidak kurang dari 70% kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara berkembang.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salh satu produsen sekaligus konsumen terbesar di dunia.
Laporan WHO tahun 1983 menyebutkan, jumlah perokok meningkat 2,1 persen per tahun di negara berkembang, sedangkan di negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 persen per tahun.
Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8 persen pria dan 9,8 persen wanita dengan usia diatas 13 tahun adalah perokok. Bahkan pada kelompok remaja, 49 pelajar pria dan 8,8 persen pelajar wanita di Jakarta sudah merokok.
Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diduga hingga menjelang tahun 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta orang per tahunnya. Sejauh ini, wabah merokok telah terjadi di negara-negara maju. Dan pada tahun 2030 diperkirakan tidak kurang dari 70 persen kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia.
Menurut Bank Dunia, konsumsi rokok Indonesia sekitar 6,6% dari seluruh konsumsi dunia. Hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2001 menyebutkan bahwa :
27% penduduk berusia diatas 10 tahun menyatakan merokok dalam satu bulan terakhir.
54,5% penduduk laki-laki merupakan perokok dan hanya 1,2% perempuan yang merokok.
Terdapat peningkatan sebesar 4% penduduk, umur diatas 10 tahun yang merokok dalam kurun waktu 6 tahun.
92,0% dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah, ketika bersama anggota rumah tangga lainnya, dengan demikian sebagian besar anggota rumah tangga merupakan perokok pasif.
68,5% penduduk mulai merokok pada usia 20 tahun meningkat 8% dari Susenas 1995 yaitu 60,0%.
Peningkatan usia muda yang merokok, kelompok umur 25-29 tahun (75%) dan kelompok umur 20-24 tahun (84,0%).
Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih saja banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dari segi kesehatan dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik. Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker.
Dari segi ekonomi, dengan berkurangnya hari bekerja karena sakit akibat merokok akan menurunkan produktivitas pekerja dengan demikian jumlah pendapatan yang diterima akan berkurang dan pengeluaran yang meningkat untuk biaya berobat . 60% dari perokok aktif atau sebesar 84,84 juta orang ternyata berasal dari kalangan penduduk miskin atau ekonomi lemah yang sehari-harinya kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya.
Dari segi sosial, merokok mempengaruhi lingkungan,orang lain, keluarga dekat.Seseorang yang bukan perokok bila terus menerus terkena asap rokok dapat menderita dampak resiko kesehatan yang sama dengan perokok.